- Home >
- artikel
Indonesia
punya destinasi wisata yang berlimpah, seperti Pulau Sumba di NTT
contohnya. Apalagi, kalau berkesempatan jalan-jalan keliling pulau ini
dengan jadi Co-Host program My Trip My Adventure. Banyak pengalaman
seru!
Sore itu, saya baru aja menginjakkan kaki di kamar. Setelah
sekian kalinya, saya menerima telpon dari nomor yang tidak dikenal hari
ini. Kali ini ternyata bukan dari pihak asuransi, tetapi salah satu kru
Trans TV yang mengabarkan ke saya, kalau saya akhirnya terpilih jadi
pemenang ke Sumba.
Sepertinya perlu saya perjelas: Saya Menang
CO-HOST MY TRIP MY ADVENTURE ke Sumba! Yes! Rasanya sudah ingin teriak
sambil salto di tempat saja. Tetapi saya memilih untuk menahan diri,
daripada nanti malah dianggep tidak waras dan batal jadi pemenang.
Setelah
berbagai 'ujian' yang saya hadapi sebelumnya, tantangan selanjutnya
adalah izin cuti 3 hari saat H-3 keberangkatan, yang butuh usaha luar
biasa. Dengan bantuan doa dari Mama dan teman-teman, akhirnya saya dapet
izin juga. It feels like an early surprise birthday gift for me.
Awesome!
Hari yang ditunggu-tunggu dengan cerah ceria tapi gugup
pun datang juga. H+1 Setelah ulang tahun, berangkatlah saya pagi-pagi
buta ke Bandara Soetta. Saya berangkat bareng PIC dari Advan dengan
flight Jakarta-Bali pukul 05.00 WIB. Dari Bali, kami melanjutkan
perjalanan pukul 12.00 Wita, full team dengan kru Trans Tv, termasuk 2
host MTMA, Vicky Nitinegoro dan Denny Sumargo.
Akhirnya, setelah
perjalanan panjang, sampailah kami di Sumba Barat. Suasananya
mengingatkan saya saat saya datang ke Dili, Timor Leste, 3 tahun lalu.
Well, mereka berdua masih terhitung tetangga juga sih, jadi wajar.
Tujuan
pertama kami adalah Pantai Mandorak di Sumba Barat Daya. Dari airport
ke pantai ini cukup jauh, sekitar 2 jam perjalanan nyaris tanpa macet,
berjarak sekitar 42 Km dari Tambolaka, Ibukota kabupaten Sumba Barat
Daya.
Rombongan kami melewati jalan berkelok-kelok di atas bukit,
naik dan turun sampai akhirnya di suatu daerah yang semakin jarang
terdapat rumah penduduk ataupun kendaraan bermotor, jauh dari kota dan
keramaian, kanan kiri dipenuhi dengan ilalang dan tanpa lampu jalan.
Lebih
banyak penduduk lokal yang berjalan kaki sambil menuntun Kerbaunya
pulang dan berhenti untuk memandangi mobil kami yang lewat. Sampai
akhirnya kami tiba di salah satu tebing tinggi Pantai Mandorak. Tempat
yang terkenal dengan pemandangan sunset-nya yang super. Dan terbukti, di
sini keren banget sunsetnya, totally!
Menikmati sunset dengan
suara ombak air pasang yang bertabrakan dengan bebatuan dan
tebing-tebing di sepanjang pantai, airnya yang jernih biru kehijauan,
pasir putih, langit yang terasa luas dan tebing yang cantik. What a
wonderful sight! Pantai Mandorak seperti surga kecil tak terjamah di
balik tebing.
Akhirnya malam pertama kami tinggal di salah satu
rumah warga asing anggota foundation asing yang sudah cukup lama tinggal
di Indonesia. Rumahnya merupakan bangunan dengan konsep rumah adat
dengan beberapa modifikasi, menghadap ke arah laut dengan teras kayu
tanpa atap.
Ternyata pemandangan dahsyat tidak hanya saat sunset,
pemandangan malamnya pun juga tidak kalah memikat. Saya seperti berdiri
dengan teropong bintang tak terlihat. Langitnya jernih, bintang-bintang
bermunculan semakin jelas memenuhi seluruh lembaran langit malam.
Percaya deh, ini kece banget!
Malam ini, Saya seperti bangsa
Na'vi yang hidup dalam film Avatar. Tidur berselimutkan bintang di
langit lepas ternyata indah juga. Kami tidur di atas hammock yang
ternyata nyaman juga buat tidur nyenyak hingga pagi menjelang.
Pagi
hari kedua kami mulai dengan berburu gurita. Wah, baru mendengar
namanya saja sudah bikin lapar. Dengan perahu nelayan, kami berangkat
melaut dan mulai berburu gurita. Hmm.. Pagi-pagi ombaknya sudah besar
saja, keras menerjang, khas pantai selatan. Perahu kru Trans TV sampai
sempat terbalik beberapa kali.
Toh, akhirnya kami pun ikut serta
nyebur ke laut dengan para nelayan untuk berburu gurita. Sudah kesekian
kalinya, tapi lagi-lagi saya kena dikerjain Deny Sumargo dan Vicky.
Tidak
tahu saya yang terlalu gampang dikerjain, atau mereka yang sudah kompak
dan terlatih untuk mengusili orang. Saya mau saja gitu disuruh ikutan
kumur-kumur air laut. Katanya biar menyatu dengan laut, jadi tidak mabuk
laut. Saya tertipu!
Anyway, air lautnya memang bersih, dingin
dan segar banget pokoknya. Begitu air lautnya menyentuh kulit, pasti
bawaannya langsung pengen menyeburkan diri. Di bagian ini nyaris tidak
ada terumbu karang, memang tidak cocok untuk snorkeling, tapi ini
memudahkan para nelayan untuk berburu gurita yang hanya dengan modal
google dan tombak, serta tentunya kemampuan menyelam.
Oh iya,
google alias kacamata renang yang dipakai nelayan asli sini tidak ada
duanya loh, karena handmade alias dibuat sendiri, sesuai dengan ukuran
mata dan kepala mereka masing-masing. Cool sekali! Akhirnya, dengan
bantuan nelayan, dari 2 gurita yang terlihat, kami berhasil menangkap 1
gurita.
Yeah! perburuan pun selesai, kami kembali ke tepian
pantai. Joe salah satu pemilik penginapan, akhirnya memasakkan gurita
yang kami dapat untuk makan siang. Nikmat sekali...
Isyana Gusdiannisa
Office worker. Jatuh cinta dengan alam Indonesia, Korea Selatan, London dan Eropa. Traveler. Doyan Baca, doyan nonton. Crazy browser. Sanguin-Melankolis.
Other Articles
-
Idih, Traveler Tiongkok BAB Sembarangan di Kabin Pesawat
0 share this. -
Liburan ke Sulawesi Utara, Ini Tipsnya
0 share this. -
UKM Toilet Bersih Akan Diwujudkan Kemenpar Mulai Oktober
0 share this. -
Menpar Tak Takut Bentrok Konsep Wisata DKI dengan Rizal Ramli
0 share this. -
Turis Mandi di Kanal Venesia, Masyarakat Italia Berang
0 share this. -
Disambut Upacara Adat di Ugimba, Tim Jurnalis Siap Lanjut ke Carstensz
0 share this. -
Bali Tidak Cuma Pantai, Ada Taman Indah di Karangasem
0 share this. -
Kemlu Keluarkan Travel Advice ke Bangkok
0 share this. -
5 Kota Paling Tidak Nyaman Ditinggali Tahun 2015
0 share this. -
Istana Versailles Prancis Akan 'Disulap' Jadi Hotel Mewah
0 share this.
Moderator: admin[at]detik.travel
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
Terbaru
-
Selasa, 20/10/2015 14:50 WIB
Pantai Selong Belanak, Tempat Bule Nikmati Hidup di Lombok
-
Selasa, 20/10/2015 14:20 WIB
Lupakan Amsterdam, Ini 2 Kota Keren Lainnya di Belanda
-
Selasa, 20/10/2015 13:50 WIB
Wisata Kuliner Nusantara Ala Republik 45 di Bali
-
Selasa, 20/10/2015 13:22 WIB
Makam Seorang Pangeran di Jakarta Selatan
Popular
-
Selasa, 20/10/2015 13:22 WIB
Makam Seorang Pangeran di Jakarta Selatan
-
Selasa, 20/10/2015 12:30 WIB
Ketika Pramugari Dicemooh Penumpang
-
Selasa, 20/10/2015 12:47 WIB
Inilah 10 Bandara Terbaik Dunia Tahun 2015
-
Selasa, 20/10/2015 11:46 WIB
Laporan dari Belanda
Traveling ke Belanda, Berani Makan Ikan Herring?
-
Selasa, 20/10/2015 10:24 WIB
Bule Gowes Becak Lintas 7 Provinsi Akhirnya Sampai di Jakarta
-
Kamis, 01/01/1970 07:00 WIB
-
Selasa, 20/10/2015 13:43 WIB
Wisata Kuliner Nusantara Ala Republik 45 di Bali
-
Selasa, 20/10/2015 12:01 WIB
Wisata Lari, Ajang Sport Tourism yang Naik Daun di Dunia
-
Kamis, 01/01/1970 07:00 WIB
-
Selasa, 20/10/2015 09:20 WIB
Di Belanda, Turis Indonesia Wajib ke Volendam!
Forum
-
Seekor Babi di Papua Seharga Sepeda Motor, Kok Bisa?
Oleh : nyimayway -
Jalan Raya Paling Berbahaya Di Dunia
Oleh : resepindon